List of Planning Expertise Groups
-
Neighborhood Planning Expertise Group
- Field of Study, Development of Expertise, and Human Resources Alignment within the Expertise Group (Field of Study)
| No. | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name |
| 1 | Neighborhood Planning | – | Settlement and Housing Planning | – | Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D |
| 2 | Neighborhood Planning | – | Settlement and Housing Management | – | Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D |
| 3 | Neighborhood Planning | Informal Neighborhoods | Informal Sector Management | – | Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D |
| 4 | Neighborhood Planning | – | Housing Planning | Land Optimization | Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc |
| 5 | Neighborhood Planning | – | Spatial Morphology | Spatial Morphology for Spatial Resilience and Sense of Place Formation | Irsyad Adhi Waskita Hutama, S.T., M.Sc |
| 6 | Neighborhood Planning | – | Community Planning | – | Zulfikar Dinar Wahidayat Putra, S.T., M.Sc |
| 7 | Neighborhood Planning | – | Landscape Planning | – | Cantya Paramita Marhendra, S.T., M.Sc |
-
Urban Planning Expertise Group
- Field of Study, Scientific Development, and Human Resource Alignment within the Expertise Group (Scientific Field)
| No | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name / Personnel |
| 1 | Urban Planning | Kampung | Participatory Planning | Urban Land | Bakti Setiawan |
| 2 | Urban Planning | City Center | Urban Morphology | Urban Design | Bambang Hari Wibisono |
| 3 | Urban Planning | – | Planning Theory | – | Sudaryono |
| 4 | Urban Planning | – | Thematic Planning | Urban Strategy | M. Sani Roychansyah |
| 5 | Urban Planning | – | Mobility System | Infrastructure | Yori Herwangi |
| 6 | Urban Planning | – | Mobility System | – | Isti Hidayati |
| 7 | Urban Planning | – | Ecological System | – | Tri Mulyani Sunarharum |
| 8 | Urban Planning | – | Planning Information System | – | Dhimas Bayu Anindito |
| 9 | Urban Planning | – | Urban Culture | – | Iwan Suharyanto |
-
Regional Planning Expertise Group
- Field of Study, Scientific Development, and Human Resource Alignment within the Expertise Group (Scientific Field)
| No. | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name / Personnel |
| 1 | Regional Planning | – | Settlement Growth/Development | – | Retno Widodo DP |
| 2 | Regional Planning | Metropolitan | Planning Processes | – | Doddy Aditya Iskandar |
| 3 | Regional Planning | Rural Areas | Rural Culture | – | Ratna Eka Suminar |
| 4 | Regional Planning | – | Food Spatial Systems | – | Sri Tuntung Pandangwati |
| 5 | Regional Planning | Coastal Areas | Disaster Risk Management | – | Atrida Hadianti |
| 6 | Regional Planning | – | Environmental Planning | – | Rendy Bayu Aditya |
Details of Expertise Groups by Lecturer
-
Neighborhood Planning Expertise Group
- Field of Study, Development of Expertise, and Human Resources Alignment within the Expertise Group (Field of Study)
| No. | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name |
| 1 | Neighborhood Planning | – | Settlement and Housing Planning | – | Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D |
| 2 | Neighborhood Planning | – | Settlement and Housing Management | – | Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D |
| 3 | Neighborhood Planning | Informal Neighborhoods | Informal Sector Management | – | Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D |
| 4 | Neighborhood Planning | – | Housing Planning | Land Optimization | Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc |
| 5 | Neighborhood Planning | – | Spatial Morphology | Spatial Morphology for Spatial Resilience and Sense of Place Formation | Irsyad Adhi Waskita Hutama, S.T., M.Sc |
| 6 | Neighborhood Planning | – | Community Planning | – | Zulfikar Dinar Wahidayat Putra, S.T., M.Sc |
| 7 | Neighborhood Planning | – | Landscape Planning | – | Cantya Paramita Marhendra, S.T., M.Sc |
- Roadmap Keilmuan Dosen
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D | Deskripsi singkat:
Perencanaan perumahan adalah proses merencanakan dan mengorganisasi pembangunan rumah dan perumahan dengan tujuan menciptakan lingkungan perumahan yang fungsional, estetis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan penduduk. Perumahan yang layak adalah hak asasi manusia yang mendasar, dan perencanaan lokasi harus mempertimbangkan praktik perencanaan lokal serta hak dan penggunaan perumahan, tanah, dan properti. Sementara itu, perencanaan permukiman adalah proses merencanakan, mengorganisir, dan mengelola pengembangan wilayah yang lebih luas yang mencakup perumahan, bisnis, fasilitas umum, dan ruang terbuka. Tujuannya adalah menciptakan permukiman yang fungsional, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan penduduk serta mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian ruang lingkup perencanaan permukiman lebih luas daripada perencanaan perumahan. Di samping itu, perencanaan perumahan dan permukiman melibatkan proses merencanakan perumahan dan merencanakan serta mengembangkan permukiman yang berkelanjutan, layak huni, dan selaras dengan rencana pembangunan kota dan wilayah. Hal ini termasuk perencanaan pembangunan perumahan, penggunaan lahan, infrastruktur, dan berbagai aspek lainnya yang mempengaruhi kualitas hidup dan keberlanjutan permukiman manusia. Visi pengembangan keilmuan: Mewujudkan perencanaan perumahan yang terjangkau untuk semua penduduk, termasuk kelompok berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga semua orang memiliki akses ke perumahan yang layak, serta mengutamakan keberlanjutan lingkungan permukiman dengan pemanfaatan energi terbarukan, pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, dan pengurangan dampak negatif yang ditimbulkan. Misi pengembangan keilmuan:
|
|
| Ontologi:
Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Perencanaan Perumahan dan Permukiman
Aksiologi: – |
Topik 1: Inovasi Perencanaan Perumahan yang Terjangkau.
Dalam konteks ini adalah memastikan bahwa perumahan yang dibangun terjangkau bagi berbagai kelompok penghasilan calon penghuni, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) disertai dengan inovasi perencanaan perumahannya. Di samping membuat kebijakan untuk mendorong pembangunan perumahan yang terjangkau baik secara sosial dan ekonomi. Contoh: Tipe dan Model Perumahan Terjangkau |
|
| Topik 2: Perencanaan Perumahan dengan penekanan pada bisnis dalam rumah (Home-based Enterprises/HBEs).
Usaha ekonomi rumahan adalah usaha yang beroperasi dari asset rumah yang dimiliki yang dioperasikan oleh pemilik rumah dan keluarganya. Usaha ekonomi rumahan, juga dikenal dengan HBE, mengacu pada kegiatan kewirausahaan yang dioperasikan dan dikelola dari tempat tinggal seseorang atau properti tempat tinggal.Bisnis ini biasanya berskala kecil dan dapat mencakup berbagai industri dan aktivitas jasa dan perdagangan. Perusahaan berbasis rumahan menjadi semakin populer karena kemajuan teknologi, internet, dan perubahan pola kerja. Dalam konteks ini memerlukan perencanaan perumahan yang cermat dalam konteks dampak yang muncul baik positif maupun negatif. Contoh: Relevansi Kegiatan Home-Based Enterprises dalam Kondisi Pandemic-Covid-19 dalam konteks kawasan perumahan perkotaan. |
||
| Topik 3: Perencanaan Kawasan Permukiman yang berkelanjutan.
Suatu proses rencana sebagai pedoman dalam memenuhi kebutuhan lingkungan hunian di perkotaan dan perdesaan serta tempat kegiatan pendukung dengan memikirkan konsep keberlanjutan yang dituangkan dalam rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka Panjang; seperti pemanfaatan energi terbarukan, daur ulang, dan transportasi berkelanjutan. Contoh: Kawasan permukiman berkelanjutan berbasis kohesivitas komunitasnya. |
||
| Topik 4: Strategi penataan permukiman perkotaan.
Strategi penataan permukiman perkotaan adalah upaya untuk mengatur tata ruang permukiman di kawasan perkotaan agar lebih teratur, terencana, dan berkelanjutan. Didalamnya termasuk adanya konsep penataan permukiman kumuh berbasis pembangunan berkelanjutan dapat digunakan untuk mengatasi masalah permukiman perkotaan saat ini. Contoh: Penerapan konsolidasi lahan permukiman perkotaan |
||
| Topik 5: Strategi perencanaan perumahan dan permukiman perdesaan.
Strategi perencanaan perumahan dan pembangunan kawasan permukiman perdesaan dilakukan dengan memperhatikan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan, prinsip pembangunan berbasis komunitas, dan prinsip sosial budaya masyarakatnya. Contoh: Evaluasi kawasan permukiman transmigrasi |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Deva
Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D |
Deskripsi singkat:
Pengelolaan perumahan dan permukiman merupakan bagian dari payung besar perencanaan dan penyediaan perumahan bagi masyarakat. Tujuan utamanya adalah menyediakan perumahan yang layak huni, melengkapinya dengan sarana prasarana permukiman yang memadai serta memberikan akses yang mudah bagi semua kalangan (inklusif). Di dalam aspek pengelolaan ini, menjadi penting untuk dilihat tentang kebijakan perumahan dan permukiman di level nasional, implementasinya di tingkat pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten/kota) serta penerimaannya di aras pengguna atau masyarakat. Terkait dengan hal tersebut, bisa dan perlu dilakukan evaluasi mengenai standar dan hasil penyediaan atau penanganan perumahan, dinamika hubungan di antara pemangku kepentingan, sistem pengelolaan perumahan publik, dampak keberadaan permukiman dan fasilitas yang menyertainya bagi lingkungan, aspek kesehatan dan kesejahteraan penghuni, serta tingkat kepuasan dan aspirasi masyarakat. Visi pengembangan keilmuan: Mewujudkan pengelolaan perumahan dan permukiman yang lebih inklusif, berpihak pada kepentingan masyarakat serta berkelanjutan. Misi pengembangan keilmuan:
|
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Pengelolaan Perumahan dan Permukiman Aksiologi: – |
Topik 1: Analisis teoretis terhadap tema-tema pengelolaan perumahan dan permukiman: pemetaan gagasan dasar yang mendasari pengelolaan perumahan dan permukiman; perbandingan pendekatan teoretis yang digunakan dalam berbagai pengelolaan perumahan dan permukiman serta identifikasi fenomena unik yang muncul.
Contoh: Housing theory and housing career; housing policy and ontological security of housing |
|
| Topik 2: Pengembangan kajian multiaspek dan integratif antartema: pengembangan pendekatan terintegrasi yang mencakup berbagai aspek dan tema dalam pengelolaan perumahan dan permukiman; pengembangan elaborasi pengelolaan perumahan dan permukiman yang dapat mencapai tujuan besar seperti keberlanjutan secara lebih efisien/terintegrasi.
Contoh: Urban renewal and housing upgrading; healthy housing |
||
| Topik 3: Pengembangan kebijakan dan praktik baik dari ragam pengelolaan perumahan dan permukiman: pengumpulan studi kasus kebijakan/praktik baik dalam implementasi pengelolaan perumahan dan permukiman di berbagai lokasi dan kasus; pengidentifikasian faktor-faktor yang berkontribusi pada keberhasilan kebijakan dan pengelolaan perumahan dan permukiman, termasuk hubungan antar lembaga serta peran serta masyarakat.
Contoh: Urban informal sector and street vendors; vertical housing and rental housing delivery |
||
| Topik 4: Evaluasi efektivitas dan kualitas implementasi dari pengelolaan perumahan dan permukiman: penilaian capaian dan dampak pengelolaan perumahan dan permukiman dalam bidang sosial, ekonomi, lingkungan dan kesejahteraan; pengidentifikasian faktor pengaruh (pendukung/penghambat) dalam capaian tujuan pengelolaan perumahan dan permukiman.
Contoh: Low-cost and affordable housing; housing for the poor |
||
| Topik 5: Pengembangan model pengelolaan perumahan dan permukiman dan penerapan praktis terkait: pengkajian model perencanaan sampai implementasi praktis pengelolaan perumahan dan permukiman dalam berbagai kasus atau lokasi; analisis jangka pendek-menegah-panjang tentang pengaruh pengelolaan perumahan dan permukiman serta keberlanjutannya.
Contoh: Residents’ adaptation and adjustment; social housing and public housing provision |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D.
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Jimly Al Faraby, S.T., M.Sc., Ph.D. | Deskripsi singkat:
Kawasan informal merupakan bagian dari ruang kota yang dihasilkan dari atau didominasi oleh proses produksi ruang yang beroperasi di luar kerangka regulasi resmi negara. Informalitas telah mewarnai hampir semua aspek kehidupan di perkotaan, dan menjadi a way of life dan mode produksi (mode of production) ruang yang dominan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Urbanisme informal muncul dan termanifestasi dalam berbagai bentuk, seperti ekonomi informal, perumahan dan permukiman informal, transportasi informal, land tenure informal, dsb yang telah membentuk karakter dan identitas ruang kota yang khas di neqara-negara berkembang tersebut.
Namun demikian, keberadaan informalitas dengan segala macam bentuknya sering disalahpahami oleh otoritas pengelola kota dan sering berujung pada kebijakan pengelolaan yang tidak tepat. Adanya rasionalitas perencanaan dan pengelolaan kota yang bertentangan (conflicting rationalities) antara visi teknokratis yang berorientasi pada ‘order and control’ dan aspirasi masyarakat yang dilandasi kepentingan untuk ‘survival and rights’ sering berujung pada konflik ruang pada skala kawasan yang menjadi interface antara kedua rasionalitas tersebut, seperti jalan dan ruang publik, serta lokasi-lokasi marjinal seperti bantaran sungai.
Oleh karena itu, keilmuan terkait fenomena informalitas, interaksinya, dan pengaruhnya pada ruang kawasan perlu untuk terus dikembangkan. Terlebih lagi informalitas merupakan fenomena yang dinamis yang terus bertransformasi dalam bentuk yang beraneka ragam, membentuk, dan mempengaruhi ruangruang dan kehidupan kota. Pengembangan keilmuan terkait informalitas pada ruang kawasan akan berkonbtribusi bagi para perencana dan perancang kota tidak hanya bisa membatasi konsekuensi negatif dari keberadaan informalitas, namun juga secara aktif menggunakan informalitas sebagai alat, yang dapat mengaktifkan dan mengarahkan proses tersebut. |
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Pengelolaan Perumahan dan Permukiman Aksiologi: – |
Topik 1: (Re)konseptualisasi informalitas (informality (re)conceptualisation) | |
| Topik 2: Interaksi ruang dan informalitas (space-informality interactions) | ||
| Topik 3: Intervensi dan inovasi perencanaan pada kawasan informal (planning innovations and interventions in informality) | ||
| Topik 4: Interaksi sektor formal-informal (formal – informal interactions) | ||
| Topik 5: Praktik keruangan informal (informal spatial practices) |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc.
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Widyasari Her Nugrahandika, S.T., M.Sc. | Deskripsi singkat:
Perencanaan Perumahan bertujuan untuk menyediakan perumahan yang terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan Visi pengembangan keilmuan Menciptakan lingkungan perumahan yang inklusif, terintegrasi dengan sarana, prasarana, utilitas yang baik, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat perkotaan maupun perdesaan.
Misi pengembangan keilmuan
|
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Perencanaan Perumahan Aksiologi: Lahan |
Topik 1: Kajian teori-teori, kebijakan, strategi, model-model dan instrumen-instrumen terkait dengan penyediaan lahan untuk perencanaan perumahan, pasar tanah dan perumahan,
Kata kunci : Land Market, Land accessibility, land for Housing provision, challenge in housing provision, housing supply and demand, land bank, Community land trust. |
|
| Topik 2: Kajian tematik mengenai teori-teori terkait dengan perencanaan perumahan
Kata kunci: Safety dan Security in Housing, Tenurial Security, Crime Prevention Through Design in Housing |
||
| Topik 3: Kajian perencanaan lingkungan perumahan, sarana dan prasarananya untuk publik.
Kata kunci: housing infrastructure, housing environment, sustainable housing. |
||
| Topik 4:Kajian Perencanaan Perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan marginal.
Kata kunci: Urban informal housing, participatory planning in housing low-income people, housing the poor, informal subdivisions, public and rental housing |
||
| Topik 5: Kajian perencanaan perumahan yang terkait dengan perilaku dan preferensi pengguna maupun penyedia perumahan
Kata kunci: housing career, housing for elderly/senior citizens, child-friendly neighborhood, developer behaviour. |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Irsyad Adhi Waskita Hutama, S.T., M.Sc
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Irsyad Adhi Waskita Hutama, S.T., M.Sc | Deskripsi singkat:
Aktivitias dalam ruang kawasan/kota (baik sosial, ekonomi, dan mobilitas) bersifat dinamis dari waktu ke waktu, namun bentuk dan pola spasial ruang , sekali diciptakan, tidak banyak bisa berubah. Hal ini menjadi fondasi dalam perencanan spasial untuk memahami morfologi spasial yang berdampak jangka panjang untuk dapat mendukung atau manghambat pembangunan berkelanjutan. |
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Morfologi Ruang Aksiologi: Morfologi ruang untuk resiliensi spasial dan pembentukan rasa ruang |
Topik 1: “Pattern language” dari ruang kawasan dan kota di Indonesia: mencari klasifikasi morfologi ruang untuk perencanaan ruang kawasan/kota yang tangguh | Buku dan Publikasi |
| Topik 2: Regenerasi dan pembentukan rasa ruang berbasis morfologi ruang | Publikasi | |
| Topik 3: Pembelajaran morfologi ruang sebagai dasar untuk memahami ruang kawasan dan kawasan yang merupakan bagian wilayah perkotaan. | Buku Pembelajaran | |
| Topik 4: Evaluasi dari bentuk-bentuk (topologi) ruang kawasan dari kota-kota di Indonesia dan perbandingan dengan kota-kota di negara maju | Publikasi | |
| Topik 5: Pengembangan simulasi model morfologi ruang kawasan/kawasan dari bagian perkotaan berbasis gamifikasi | Buku dan Publikasi |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Zulfikar Dinar Wahidayat Putra, ST,.M.Sc
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Zulfikar Dinar Wahidayat Putra, ST,.M.Sc | Deskripsi singkat:
Perencanaan wilayah dan kota modern banyak diilhami oleh kesadaran bahwa kota dan wilayah sejatinya dibentuk oleh tiga elemen yang saling berkaitan, yakni “Place”, “Work”, “Folk” (Geddes, 1915). Berdasarkan hal tersebut, salah satu diskursus dalam ilmu perencanaan adalah “Folk”, yang merupakan suatu sistem sosial yang saling berhubungan dalam bentuk komunitas yang memanfaatkan sumber daya pada “place” dan melakukan berbagai kepentingannya (“work”). Oleh karena itu, pendalaman terkait “Folk” dalam dunia perencanaan sangat diperlukan untuk mengeksplorasi dan merekayasa sistem komunitas tersebut untuk menyusun perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka (participatory planning), serta juga memanfaatkan sistem tersebut untuk mendukung perencanaan (bottom-up planning). Sistem komunitas terkecil adalah keluarga yang kemudian dalam sistem sosia, tiap warga saling berinteraksi hingga berkembang dalam skala kawasan, kota, hingga wilayah. Dengan perkembangan teknologi saat ini, “folk” atau komunitas tidak hanya ada di ruang fisik “physical space”, tetapi juga muncul di ruang virtual “digital space”, yang mana mekanisme jejaring sosial dan pemanfaatan sumber dayanya sangat berbeda pada tiap ruang. Hal inilah yang menjadi urgensi pengembangan bidang ilmu perencanaan komunitas untuk mewujudkan perencanaan wilayah dan kota yang humanis |
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Perencanaan Komunitas |
Topik 1: Perencanaan komunitas berbasis aksi (insurgent planning, action planning, grassroots urbanism) | |
| Topik 2: Komunitas cerdas/digital/virtual (smart communities, usergenerated data, metaverse, sosial media, AI dalam komunitas, gaming approach | ||
| Topik 3: Kolaborasi komunitas dan jejaring sosial (co-creation in planning, sistem inovasi perkotaan, social network) |
ROAD MAP Keilmuan Dosen: Cantya Paramita Marhendra, S.T., M.Sc.
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/
Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Cantya Paramita Marhendra, S.T., M.Sc. | Deskripsi singkat:
Perencanaan lanskap dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan pembentukan karakter serta identitas suatu kawasan Visi pengembangan keilmuan Mewujudkan strategi perencanaan, perancangan dan pengelolaan dalam peningkatan kualitas lanskap yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Misi pengembangan keilmuan
|
|
| Ontologi: Perencanaan Kawasan
Epistemiologi: Perencanaan Lanskap |
Topik 1: Eksplorasi pendekatan ekologi lanskap dalam peningkatan kualitas lanskap kawasan | |
| Topik 2: Pengembangan metode phytoremediation dalam pengelolaan polusi dan limbah pada urban landscape | ||
| Topik 3: Evaluasi kebijakan dengan pendekatan penilaian resiko ekologi lanskap |
B. Urban Planning Expertise Group
- Field of Study, Scientific Development, and Human Resource Alignment within the Expertise Group (Scientific Field)
| No | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name / Personnel |
| 1 | Urban Planning | Kampung | Participatory Planning | Urban Land | Bakti Setiawan |
| 2 | Urban Planning | City Center | Urban Morphology | Urban Design | Bambang Hari Wibisono |
| 3 | Urban Planning | – | Planning Theory | – | Sudaryono |
| 4 | Urban Planning | – | Thematic Planning | Urban Strategy | M. Sani Roychansyah |
| 5 | Urban Planning | – | Mobility System | Infrastructure | Yori Herwangi |
| 6 | Urban Planning | – | Mobility System | – | Isti Hidayati |
| 7 | Urban Planning | – | Ecological System | – | Tri Mulyani Sunarharum |
| 8 | Urban Planning | – | Planning Information System | – | Dhimas Bayu Anindito |
| 9 | Urban Planning | – | Urban Culture | – | Iwan Suharyanto |
- Roadmap Keilmuan Dosen
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Bakti Setiawan | Salah satu komponen kota yang dominan dan mempunyai peran penting adalah perumahan sektor informal, yang dalam konteks Indonesia disebut sebagai Kampung. Kampung demgan demikian merupakan sub-ontologi erencanana kota yang perlu dikaji dan didalamai dengan lebih baik, agar ke depanya dapat diusulkan berbagai program perencanaan dan perbaikan kampung yang lebih tepat dan menjamin prinisp-prinsip pembangunan berkelanjutan.Karena kampung juga disebut sebagai peruumahan swadaya, dimana peran warga/Masyarakat sangat penting, maka penting untuk mendalaminya dari epistemology perencanaan partisipatif, yang menakankan pada aspek-aspek pemberdayaan warga kampung serta kolaborasinya dengan pihak-pihak di luar kampung.Lebih jauh, karena salah satu persoalan penting kampung adalah keamanan bermukim dan ini menyangkut isu isu lahan, maka menjadi sangat penting untuk melihat persoalan perencanaan partisipatif kampung dari elemen lahan perkotaan. Kampung hanya bisa tumbuh, berkembang, dan berkelanjutan apabila aspek lahanya jelas dan terjamin.
Visi: mengembangkan teori-teori lokal tentang kampung serta membantu proses proses pemberdayaan masyarakat kampung untuk dapat memastikan perkembangan kampung yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan Misi:
|
Sudah cukup banyak, dimulai sejak disertasi tahun 1998, berbagai publikasi setelahnya, buku buku, serta pidato pengukuhan mengenai kampung |
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Perencanaan Partisipatif/Kolaboratif Aksiologi: Lahan perkotaan |
Topik 1:Model model pengembangan/perbaikan kampung, termasuk kampung kampung tematik | |
| Topik 2:Aspek aspek pemberdayaan kampung dan faktor-faktor yang menentukanya, termasuk faktor regulasi dan politik | ||
| Topik 3:Akses atas lahan untuk kampung dan berbagai persoalan di dalamnya | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Bambang Hari Wibisono | Narasi Tema Besar
Berbagai kegiatan dan fungsi perkotaan yang senantiasa berkembang memiliki kecenderungan membentuk konsentrasi atau pemusatan pada kawasan-kawasan tertentu, dan setiap kota menunjukkan adanya kecenderungan sentralitas yang bervariasi. Dengan demikian, kawasan pusat kota merupakan salah satu kawasan di perkotaan yang memiliki daya tarik yang kuat dan memiliki kompleksitas yang bersifat multidimensi. Waktu merupakan dimensi penting di dalam kajian perkotaan, yang menunjukkan bahwa kawasan pusat kota senantiasa mengalami perkembangan yang dinamik. Beberapa isu perkotaan yang berkaitan dengan perkembangan kawasan pusat kota, yaitu: (a) Semakin tingginya intensitas pemanfaatan lahan di kawasan pusat kota merupakan akibat dari daya tarik yang tinggi dari fenomena sentralitas. Hal tersebut berdampak kepada semakin tingginya nilai lahan, sehingga harus dimanfaatkan secara lebih efisien; (b) kecenderungan perkembangan kota darai yang semula berinti tunggal (monosentrik) menjadi berinti banyak (polisentrik), dengan segala bentuk konsekuensi yang menyertainya, termasuk perubahan struktur dan pola kota; (c) dalam konteks kesejarahan, terlepas dari berkembangnya fungsi-fungsi baru di kawasan pusat kota, terdapat sejumlah tantangan bagi kawasan pusat kota untuk dapat memelihara dan mempertahankan identitas khasnya, terutama dalam hal nilai kesejarahan yang melekat; (c) di dalam perkembangannya pusat kota mengalami siklus pasang-surut yang dinamik, dalam arti suatu saat kawasan pusat kotanya mengalami puncak sebagai pusat kegiatan yang memiliki daya tarik sangat tinggi, pada gilirannya akan mengalami penurunan kualitas ketika mulai ditinggalkan oleh para pengunjungnya sebagai akibat dari adanya pesaing-pesaing berupa pusat-pusat kegiatan baru; (d) perkembangan kota secara kontemporer bahkan menunjukkan berbagai fenomena yang semakin kompleks dan dinamis, misalnya kawasan pusat kota yang menjadi lebih bersifat fungsi campuran atau mixed-use Hal ini ditunjukkan dengan fenomena perkembangan superblock di berbagai kota di dunia, dengan suatu konsep dasar one-stop living, tentu dengan berbagai macam konsekuensi positif maupun negatifnya, termasuk ketika diintegrasikan dengan kegiatan transportasi melahirkan konsep TOD (Transit Oriented Development), serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih, yang telah dan akan terus merubah cara hidup penduduk perkotaan, misal di dalam berbelanja secara online, yang tentunya juga membawa konsekuensi kepada perkembangan bentuk-bentuk baru kawasan pusat kota. |
|
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Morfologi Kota Aksiologi: Rancang Perkotaan |
Topik 1: Proses dan dinamika perkembangan perkotaan berkaitan dengan pembentukan pusat-pusat kegiatan baru (dari monosentrik ke polisentrik), yang berdampak kepada pergeseran struktur dan pola kota | |
| Topik 2: Perkembangan kawasan pusat kota kontemporer, dengan fokus kepada perubahan karakteristik kawasan pusat kota yang ada saat ini, sebagai dampak dari berbagai jenis perkembangan peradaban, baik pada skala lokal, nasional, dan global, termasuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dan kejadian-kejadian khusus. | ||
| Topik 3: Dialektika proses (fisik-morfologis, sosial, kultural) ) terbentuknya ruang-ruang publik di perkotaan, sebagai embrio terjadinyanya pemusatan kegiatan perkotaan | ||
| Topik 4: Perkembangan fungsi dan peran (sosial-ekonomi-budaya) kawasan pusat kota di dalam mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan | ||
| Topik 5: Eksplorasi bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi baru kawasan pusat kota | ||
| Topik 6: Telaah karakteristik tatatan morfologis kawasan pusat kota dan hubungannya dengan kualitas lingkungan (fisik, sosial, kultural) | ||
| Topik 7: Pengembangan model/pendekatan rancang perkotaan kawasan pusat kota yang berkelanjutan | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Dr. Eng. M Sani Roychansyah, S.T., M.Eng. | Narasi Tema Besar
Perencanaan kota tematik, dalam konteks perencanaan kota/perkotaan, menjadi sangat penting mengingat perbedaan karakteristik dan kebutuhan setiap kota. Perencanaan ini menitikberatkan fokus pada tema atau isu tertentu dalam kota, yang dapat muncul dari berbagai dimensi seperti kondisi, permasalahan, maupun kebutuhan solusi kota yang dipengaruhi oleh lokasi, bentuk, fungsi/peran, profil, maupun aspek/sektor tertentu. Perencanaan tematik yang sering muncul sebagai strategi kota/perkotaan seperti perencanaan kota hijau, kompak, tangguh, regeneratif, inklusif, cerdas, kreatif, hidup, bahagia, sehat, lestari, berbasis transit/kegiatan/aspek tertentu dan sederetan pilihan tema lainnya saat ini menjadi referensi sampai pilihan perencanaan kota-kota. Meskipun perencanaan kota tematik memiliki potensi besar untuk mencapai tujuan kota yang beragam, tetapi banyak dilatarbelakangi oleh kelatahan, jeneralisasi, cenderung “top-down”, dan kurang didasarkan pada kajian teoretis dan praktik melalui riset kontekstual. Hal ini menyebabkan tumpang tindih, ketidakjelasan, dan banyak kegagalan dalam implementasinya karena berbagai faktor seperti teknokrasi, birokrasi, proses perencanaan, dan tata kelolanya. Oleh karena itu, perencanaan kota tematik memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan dukungan riset yang kuat untuk memastikan kesesuaian dan keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas hidup perkotaan yang semakih baik.
Visi pengembangan keilmuan Mewujudkan perencanaan kota tematik yang kontekstual dan berkelanjutan, dengan basis karakteristik kota yang khas/kuat dalam menghadapi peluang/tantangan pembangunan kota di masa datang.
Misi pengembangan keilmuan
|
|
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Perencanaan Tematik Aksiologi: Strategi Perkotaan |
Topik 1: Analisis teoretis terhadap tema-tema perencanaan kota: pemetaan konsep-konsep kunci yang mendasari perencanaan kota tematik; perbandingan pendekatan teoritis yang digunakan dalam berbagai tema perencanaan kota dan mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan peluang/tantangan unik yang muncul. | |
| Topik 2: Pengembangan kajian interdisipliner/multiaspek dan integrasi antar-tema: pengembangan pendekatan terintegrasi yang mencakup berbagai aspek dan tema dalam perencanaan kota; pengembangan elaborasi perencanaan kota tematik dapat mencapai tujuan besar seperti keberlanjutan secara lebih efisien/terintegrasi. | ||
| Topik 3: Pengembangan kebijakan dan praktek terbaik ragam perencanaan kota tematik: pengumpulan studi kasus kebijakan/praktek sukses dalam implementasi perencanaan kota tematik di berbagai kota dan wilayah; pengidentifikasian faktor-faktor yang berkontribusi pada keberhasilan kebijakan perencanaan kota tematik, termasuk tata kelola pemerintahan maupun partisipasi masyarakat. | ||
| Topik 4: Evaluasi efektivitas dan kualitas implementasi dari perencanaan kota tematik: penilaian capaian dan dampak perencanaan kota tematik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun lingkungan; pengidentifikasian faktor pengaruh (pendukung/penghambat) dalam capaian tujuan perencanaan kota tematik. | ||
| Topik 5: Pengembangan model perencanaan kota tematik dan penerapan praktis terkait: pengkajian model perencanaan sampai implementasi praktis kota tematik dalam berbagai tipologi/variasi kota; analisis jangka panjang pengaruh perencanaan kota tematik pada perkembangan kota, kemungkinan keberlanjutannya pada peningkatan kualitas hidup warga kota, dan masa depan pengembangannya. | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Yori Herwangi | Dalam merencanakan suatu kota, sistem mobilitas merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Sistem mobilitas di suatu kota tidak hanya mencakup sistem transportasi saja tapi juga terkait dengan pengaturan sistem pusat-pusat kegiatan perkotaan yang perlu dilayani oleh sistem pergerakan yang efektif dan inklusif. Sistem mobilitas di perkotaan mencakup perpindahan orang dan barang melalui berbagai moda, seperti moda transportasi tidak bermotor (berjalan kaki dan sepeda), moda kendaraan bermotor pribadi, maupun moda transportasi publik.Perencanaan sistem mobilitas dalam suatu kota juga perlu mempertimbangkan berbagai aspek,seperti aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Isu-isu keterkaitan antara mobilitas penduduk dengan aspek sosial, seperti isu transport poverty, transport disadvantage, transport-related social exclusion merupakan topik yang banyak dibahas pada saat ini, tanpa mengesampingkan isu-isu mobilitas terkait aspek yang lain. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya concern terhadap isu-isu perencanaan inklusif dan pentingnya merencanakan “kota untuk semua” sehingga topik mengenai sistem mobilitas perkotaan yang inklusif merupakan topik penelitian yang sangat penting dan menarik. Kedepannya pembahasan mengenai sistem mobilitas perkotaan juga semakin menarik dan urgen, dengan adanya berbagai disrupsi dalam sistem mobilitas seperti munculnya ride-hailing dan ride-sharing transport berbasis aplikasi, micromobility, automated vehicle yang tentunya mempengaruhi cara masyarakat melakukan mobilitas dan pada akhirnya mengubah bagaimana suatu kota di masa depan harus direncanakan, baik secara spasial maupun aspasial, serta implikasinya terhadap kebutuhan infrastruktur perkotaan. | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Sistem mobilitas Aksiologi: Infrastruktur |
Topik 1:Sustainable urban mobility
Terkait sistem mobilitas yang berkelanjutan ditinjau dari aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial (termasuk kaitannya dengan inclusive urban mobility) |
|
| Topik 2:Mobilitas perkotaan dan struktur ruang kota
Membahas keterkaitan antara mobilitas perkotaan (termasuk yang terkait isu-isu kontemporer dalam mobilitas penduduk seperti ride-hailing,ride-sharing,micromobility, automated vehicle, dll) dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan perencanaan pola dan struktur ruang kota. |
||
| Topik 3:Perencanaan infrastruktur mobilitas perkotaan Terkait perencanaan infrastruktur, baik berupa hard infrastructure maupun soft-infrastructure yang menunjang mobilitas penduduk perkotaan |
||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Isti Hidayati | Sistem mobilitas meliputi pergerakan manusia dan barang, bukan hanya dalam konteks transportasi sebagai permintaan turunan (derived demand), tetapi juga kondisi, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta strategi pengembangan terkait sistem pergerakan tersebut (i.e., new mobility paradigm seperti yang diungkapkan Sheller, 2018). Pada definisi tersebut, keterkaitan antara mobilitas dan aspek spasial (terutama konfigurasi jaringan infrastruktur dan guna lahan) menjadi obyek utama dalam pengembangan keilmuan ini, termasuk aksesibilitas. Perencanaan sistem mobilitas pada beberapa dekade terakhir bertujuan untuk mewujudkan kehidupan kota yang inklusif, sehat (active mobility), berkelanjutan, dan berkeadilan. Untuk mewujudkan hal tersebut, perkembangan terknologi dalam sistem mobilitas (misal: pemanfaatan kendaraan elektrik, smart mobility, ridesharing dan ridehailing services) perlu diselaraskan dengan dinamika sosio-spasial yang ada. | Publikasi Jurnal
Rekomendasi Kebijakan |
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Sistem mobilitas Aksiologi |
Topik 1: Kesenjangan mobilitas (mobility inequality), termasuk isu terkait transport poverty, transport related social-exclusion, transport inequality | |
| Topik 2: Perencanaan mobilitas dan aksesibilitas perkotaan | ||
| Topik 3: Gendered mobility | ||
| Topik 4: Mobilitas berkeadilan (mobility justice) | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Tri Mulyani Sunarharum | Permasalahan perkotaan pada abad ke-21 terkait erat dengan berbagai isu pada sistem ekologis yang mencakup: (i) tingginya kerentanan dan risiko bencana; (ii) meningkatnya potensi dampak dan bahaya perubahan iklim; serta (iii) deplesi sumber daya alam dan degradasi kualitas lingkungan. Berkenaan dengan kondisi tersebut, dalam level global telah dibangun konsep permukiman kota yang berkelanjutan, kota tangguh, kota kompak, kota hijau, kota pintar, kota sehat, dan kota ekologis. Berbagai konsep tersebut telah menawarkan pendekatan yang membawa amanat dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Namun demikian, masih diperlukan pendalaman yang memperhatikan ekosistem perkotaan sebagai sebuah sistem. Oleh karena itu, pengembangan keilmuan dalam perencanaan sistem ekologis menjadi penting untuk dapat mengintegrasikan tiga matra yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan manusia secara harmonis. Perencanaan sistem ekologis dalam konteks perencanaan, pembangunan, dan manajemen perkotaan ini tidak hanya terkait dengan bagaimana dapat mewujudkan keberlanjutan dan membangun ketangguhan bencana, namun juga terkait dengan upaya mewujudkan peningkatan kualitas hidup masyarakat dan keanekaragaman hayati dalam lansekap ekologi yang ada, serta peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi
Epistemiologi Aksiologi |
Topik 1: Ketangguhan bencana dan adaptasi perubahan iklim yang transformatif (Disaster resilience and transformative adaptation to climate change)
Topik ini mengulik ketangguhan kota dan masyarakat perkotaan terhadap bencana yang mencakup upaya struktural dan non-struktural dalam fase kesiapsiagaan, kedaruratan, dan rekonstruksi dan rehabilitasi. Selain itu, topik ini juga mengkaji adaptasi terhadap perubahan iklim yang juga menjadi bagian dari bagaimana kota dan masyarakat menuju climate-resilient. Penelitian pada topik ini dapat berfokus pada perspektif infrastruktur, kebijakan, maupun kelembagaan yang menyentuh aspek tiga matra, yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan manusia. |
|
| Topik 2: Perencanaan Solusi berbasis Alam (nature based solutions/NbS) untuk penguatan ketangguhan dan keberlanjutan kota
Topik ini mengeksplorasi potensi, peluang, masalah, dan tantangan dalam pemanfaatan Solusi berbasis Alam (NbS) dalam upaya membangun dan memperkuat ketangguhan dan keberlanjutan kota. Pembahasan dalam penelitian pada topik ini mencakup perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan infrastruktur hijau, serta sinergi antara sistem hijau (green system) dan sistem biru/sistem tata air (blue system). Penelitian pada topik ini dapat berfokus pada perspektif infrastruktur, kebijakan, maupun kelembagaan yang menyentuh aspek tiga matra, yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan manusia. |
||
| Topik 3: Manajemen ekosistem perkotaan dan sumber daya (Urban ecosystems and resources management)
Topik ini mengkaji dan mendalami bagaimana sumber daya perkotaan, yang meliputi sumber daya berupa aset alam, aset buatan/infrastruktur, aset manusianya, dan aset investasi/finansial dapat dikelola dengan baik dalam konteks ekosistem perkotaan. Penelitian dalam topik ini dapat juga dikaitkan dengan konsep circular economy/circular city yang dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya perkotaan sekaligus mengurangi ecological footprint. Hal ini tentu juga berkontribusi dalam menguatkan ketangguhan dan keberlanjutan kota dan masyarakatnya. Penelitian pada topik ini dapat berfokus pada perspektif infrastruktur, kebijakan, maupun kelembagaan yang menyentuh aspek tiga matra, yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan manusia. |
||
| Topik 4: Perencanaan kota masa depan yang transformatif berbasis lansekap ekologi (Landscape ecology based transformative future city)
Topik ini merupakan pendalaman dan sekaligus dibangun dari ketiga penelitian sebelumnya. Penelitian pada topik ini menekankan pada pengembangan model perencanaan kota yang transformatif dan berorientasi pada masa kota depan (future cities) namun menggunakan lansekap ekologi sebagai landasannya. Pengembangan model kota tersebut mempertimbangkan aspek, yaitu: ketangguhan terhadap bencana dan dampak perubahan iklim; integrasi nature-based solutions; serta manajemen ekosistem kota dan sumber daya yang melekat yang memerhatikan kualitas lansekap ekologinya. Penelitian pada topik ini dapat berfokus pada perspektif infrastruktur, kebijakan, maupun kelembagaan yang menyentuh aspek tiga matra, yaitu lingkungan alam, lingkungan binaan, dan lingkungan manusia. |
||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Dhimas Bayu Anindito | Sistem informasi perencanaan merupakan tulang punggung di dalam tiap tahapan proses perencanaan. Dengan adanya sistem informasi perencanaan yang baik, perencanaan dapat dilakukan baik secara top-down maupun bottom-up. Selain itu, perencanaan juga dapat diarahkan menuju sebuah proses dengan sumber data sekreatif mungkin dan mengatasi isu best-available data (BAD) planning. Dengan arah pengembangan keilmuan ini, diharapkan perencanaan sebagai sebuah proses dapat diakses dengan mudah dari berbagai latar belakang | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi: Perencanaan Kota
Epistemiologi: Sistem Informasi Perencanaan Aksiologi |
Topik 1: Analitika Perkotaan (Urban Analytics) | |
| Topik 2: Kota Cerdas | ||
| Topik 3: Perencanaan Partisipatif | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Iwan Suharyanto | Budaya, sebagai salah satu aspek sentral dalam kehidupan manusia, memiliki peran yang mendalam dalam membentuk serta mencerminkan kehidupan perkotaan. Budaya bukan hanya merupakan hasil dari proses kolektif masyarakat yang menghuni perkotaan, tetapi juga menjadi produk dari beragam kegiatan yang berlangsung dalam ruang perkotaan yang dinamis. Perencanaan kota, sebagai disiplin yang berfokus pada pembentukan dan pengelolaan ruang perkotaan, tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya perkotaan. Budaya perkotaan menjadi dasar dan panduan bagi pengambilan keputusan dalam perencanaan kota. Setiap elemen, dari tata letak jalan, bangunan, taman, hingga infrastruktur, memiliki pengaruh terhadap budaya perkotaan dan sebaliknya. Oleh karena itu, memahami budaya perkotaan adalah kunci untuk menciptakan perkotaan yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memadukan sejarah dengan masa depan. | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi
Epistemiologi Aksiologi |
Topik 1: Pengelolaan dan perencanaan kota terkait dinamika ruang perkotaan | |
| Topik 2: Pengelolaan dan perencanaan kota terkait budaya malam di perkotaan | ||
| Topik 2: Pengelolaan dan perencanaan kota terkait turistifikasi dan studentifikasi di perkotaan | ||
| Topik 3: Pengelolaan dan perencanaan kota terkait budaya subkultur di perkotaan |
-
Regional Planning Expertise Group
- Field of Study, Scientific Development, and Human Resource Alignment within the Expertise Group (Scientific Field)
| No. | Field of Study (Ontology) | Sub-Ontology Assignment* (optional) | Epistemology Assignment | Axiology Assignment* (optional) | Lecturer Name / Personnel |
| 1 | Regional Planning | – | Settlement Growth/Development | – | Retno Widodo DP |
| 2 | Regional Planning | Metropolitan | Planning Processes | – | Doddy Aditya Iskandar |
| 3 | Regional Planning | Rural Areas | Rural Culture | – | Ratna Eka Suminar |
| 4 | Regional Planning | – | Food Spatial Systems | – | Sri Tuntung Pandangwati |
| 5 | Regional Planning | Coastal Areas | Disaster Risk Management | – | Atrida Hadianti |
| 6 | Regional Planning | – | Environmental Planning | – | Rendy Bayu Aditya |
- Roadmap Keilmuan Dosen
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| R Widodo D Pramono | Pertumbuhan (dalam artian dimensi fisik) dan perkembangan (dalam artian kualitas) permukiman adalah aspek yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan dan kualitas hidup manusia (Quality of Life-Wellbeing). Pada dimensi luasan dan bentukan fisik, ruang permukiman dapat menentukan jejak ekologi (ecological footprint), salah satu konsep untuk mengkaji batas-batas keberlanjutan suatu ekosistem dengan mengukur permintaan penduduk atas sumber daya alam. Bentuk dan konfigurasi ruang permukiman juga sangat menentukan efisiensi dan produktivitas sistem ekonomi, misalnya berkaitan dengan pemakaian energi, serta densitas kegiatan produktif yang dapat ditampungnya.
Sebagai salah satu artefak yang dihasilkan dari proses peradaban, selain mengalami pertumbuhan, permukiman juga akan selalu secara dinamis mengalami re-organisasi. Proses ini adalah bagian dari proses tawar-menawar antar berbagai aktor (stakeholder) dan evaluasi komunal yang akan mengantar pada proses produksi dan reproduksi ruang secara terus-menerus. Proses ini tidak akan pernah berhenti sepanjang peradaban manusia, selalu kontekstual dengan perkembangan pemikiran baru, kontruksi sosial baru, perkembangan ilmu dan teknologi. Bidang perencanaan wilayah sangat strategis berkontribusi mengarahkan proses pertumbuhan, perkembangan dan reorganisasi ruang permukiman dapat terjadi dalam proses yang efisien, efektif, dan berkeadilan sehingga menghasilkan kualitas bentukan permukiman yang menjamin optimalitas penggunan sumber daya serta pencapaian kualitas hidup manusia (Quality of Life-Wellbeing). |
HAKI:
Community Capability Index & Place’s Supporting Capability Index PATEN: Community Capability Index & Place’s Supporting Capability Index Artikel Jurnal: tertulis di setiap topik |
| Ontologi: Perencanaan Wilayah
Epistemiologi: Pertumbuhan/Perkembangan Permukiman Aksiologi |
Topik 1: Urbanisasi dan Organisasi Spasial Permukiman.
Urbanisasi merupakan fenomena peradaban yang semakin intensif. Terutama pada negara berkembang urbanisasi semakin bergeser dari fenomena perpindahan orang dari wilayah pedesaan ke wilayah perkotaan menjadi lebih berupa transformasi area pedesaan menjadi area perkotaan yang mendorong pertumbuhan perkotaan secara spasial menjadi lebih dominan daripada peningkatan kepadatan penduduk di area perkotaan. Akibatnya footprint dari lahan terbangun semakin membesar dan jika tidak dikelola dan dengan baik akan mengancam environmental and ecological sustainability |
Proseding internasional: Housing Development on the Urban Fringe and its Challenges to Sustainable Urban Growth
Telah terbit artikel internasional: Socio-spatial aspects contributing to the spread of COVID-19 in Yogyakarta Province (Indonesia) yang menyimpulkan bahwa penyebaran covid mengikuti pola bentukan sistem perkotaan. Namun demikian faktor kepadatan penduduk sebagai ide dasar kota Kompak tidak membahayakan bagi ketahanan terhadap pandemi Covid-19 Sedang menyusun artikel The Pattern of Urban Growth in Indonesia 2010-2020 based on National Rural to Urban Transformation Data |
| Topik 2: Kualitas Permukiman (terutama sistem perkotaan) dan Kontribusinya terhadap Kapabilitas Kualitas Permukiman (kualitas tempat) sangat menentukan kualitas hidup manusia (Quality of Life-Wellbeing) karenanya harus menjadi area kajian dan prioritas perencanaan. Secara lebih spesifik, Pramono (2016, 2018, 2019) telah mengkaitkan kualitas tempat dengan konsep kapabilitas (Sen 2000), yaitu tingkat kemampuan orang atau komunitas dalam meningkatkan kualitas hidupnya, yang tidak hanya dalam ukuran ekonomi-moneter. Permukinan yang berkualitas merupakan aset dalam meningkatkan kapabilitas masyarakat. | Disertasi Capability Approach for well-being Evaluation in Regional Development Planning, memberia penekatan mengenai kualitas tempat sebagai aset penting bagi kualitas hidup (Quality of Life-Wellbeing)
Telah publikasi artikel Nasional: Aspek-aspek Pembentuk KUalitas Tempat berdasarkan Survei Kapabilitas: determinan bagi Kebahagiaan Masyarakat. Proseding Internasional: The transect of happiness and community’s capability in urbanizing Yogyakarta Berencana Melakukan Penelitian dan Menyiapkan Artikel: Indonesian Metropolitan Compatcness & Sprawl Index |
|
| Topik 3: Efisiensi dan Produktivitas Guna Lahan Permukiman
Isu mengenai produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan, terutama untuk permukiman perkotaan tumbuh sangat pesat melalui proses tranformasi perdesaan menjadi perkotaan intensif disuarakan oleh berbagai lembaga dunia, misalnya oleh UN Habitat dan UNEP. Produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan perkotaan diyakini sebagi salah satu jalan menuju pencapaian SDGs (Goal 11 memperkuat urbanisasi yang inklusif dan berkelanjutan serta kapasitas partisipasi, perencanaan penanganan permukiman yang berkelanjutan dan terintegrasi). |
Sedang menyusun artikel Spatial Urbanization in Indonesia 2010-2020: Evaluation based on Macro Indicators | |
| Topik 4: Strategi Pengendalian Perkotaan (Urban Growth Management)
Kita perlu memiliki kekhawatiran jika urbanisasi yang menghasilkan bentukan permukiman dapat cenderung tidak efisien dan menyiapkan diri untuk merespon dengan kebijakan yang efektif. Yang pertama perlunya penetapan urban boundary dalam spatial planning practices yang wujudkan secara disiplin dan konsisten. Pada kasus praktek penataan ruang di Indonesia misalnya di-delineasi-kan pada peta rencana struktur ruang. Yang kedua, pembangunan infrastruktur, terutama terkait dengan aksesibilitas tidak boleh hanya termotivasi untuk memfasilitasi perkembangan, tetapi juga harus menjadi perangkat urban growth control. Yang ketiga adalah pengembangan metode teknik yang dapat mendukung pengambilan keputusan arah perkembangan permukiman yang transparan dan berkeadilan. Bagaimana peluang implementasi kebijakan dan strategi seperti ini perlu direkam (jika sdah ada contoh praktisnya) dan dieksplorasi peluangnya melalui evaluasi berbagai kebijakan dan strategi penataan ruang yang sedang berlangsung. |
Telah publikasi artikel Internasional: Urban Development Project Evaluation Using Multi-Stakeholder Cost–Benefit Analysis
Sedang submit artikel: Evaluating Spatial Plan Maps as Supplementary Documents to Statutory Regulations in Indonesian Spatial Planning Practices yang mengkritisi kurang efektifnya wujud peta rencana sebagai bagian dari Urban Growth Management. Berencana melakukan penelitian mengenai Praktek Urban Growth Management di berbagai negara, dan peluang penerapannya di Indonesia |
|
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Doddy Aditya Iskandar, S.T., MCP, Ph.D | Urbanisasi dan ketimpangan antar wilayah sebagai hasil dari interaksi antara kemampuan (ketidakmampuan) wilayah didalam mengelola dan memanfaatkan modal dasar dan modal kerja yang dimilikinya akan berimbas kepada munculnya permasalahan kewilayahan. Pendekatan perencanaan wilayah masa kini dan mendatang akan mengarah kepada aspek institusi (new regionalism), prinsip pluralitas dan proses perencanaan yang bersifat lintas batas administrasi (. Fokus terkait institusi akan menghasilkan teknik, metode dan model kerjasama antar daerah dan tata kelola (governance mode) untuk menyelesaikan permasalahan kewilayahan. Sementara proses perencanaan wilayah yang cenderung bersifat lintas batas administrasi akan menghasilkan model tata kelola wilayah yang tidak saja mengandung prinsip cost-efficiency dan cost-effectiveness namun juga memerhatikan aspek dan prinsip equitable planning terutama terkait dengan daerah pinggiran/termarjinalkan. Secara spasial, dua pendekatan akan dikembangkan: pendekatan berbasis metropolitan (untuk wilayah tumbuh cepat) dan pendekatan berbasis ekosistem. | Publikasi Jurnal HAKI PATEN |
| Ontologi: perencanaan wilayah Epistemiologi: proses perencanaan Aksiologi: tata kelola kewilayahan dan kelembagaan metropolitan |
TOPIK 1: telaah kritis proses perencanaan dan tata kelola wilayah metropolitan
Deskripsi: Narasi pengembangan perkotaan dewasa ini mengarah kepada bagaimana interaksi antara kota dan wilayah penyangganya menjadi dasar pijakan di dalam proses perencanaan dan manajemen pembangunan kewilayahan (Brenner, 1999; Hermelin & Trygg, 2022; Willi et.al. 2023). Batas administrasi tidak lagi dilihat sebagai sekat yang memisahkan karena persoalan kewilayahan akan selalu bersifat lintas batas, dan pertumbuhan dan perkembangan kota akan selalu terhubung dengan dinamika yang ada di perdesaan, dan begitu pula sebaliknya (konsep ‘ties that bind’) (Savitch, 2000; Vogel, 2002). Pendekatan untuk proses perencanaan dan tata kelola wilayah metropolitan akan lebih banyak mengedepankan strategi kelembagaan dan kerangka berpikir political economy untuk menyelesaikan permasalahan ruang wilayah dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan wilayah. |
|
| TOPIK 2: simulasi dan pemodelan ekonomi spasial untuk pengembangan wilayah
Deskripsi: proses perencanaan pengembangan wilayah di masa mendatang menuntut adanya kejelasan tinggi rendah hasil pembangunan yang bisa dicapai dengan menggunakan sumberdaya yang dimiliki (baik modal dasar maupun modal kerja). Capaian ini juga tidak bisa dilepaskan dari derajat kedewasaan budaya (cultural maturity) dan kematangan tingkat ekonomi (economic maturity) sebuah daerah. Untuk memastikan bahwa sumberdaya yang dimiliki sebuah daerah benar-benar bisa digunakan, maka diperlukan pendekatan di dalam proses perencanaan yang didekati secara kuantitatif (dalam bentuk simulasi dan pemodelan) agar dapat secara tepat menunjukkan efek dari optimalisasi sumberdaya daerah (setempat) terhadap besar-kecil hasil pembangunan yang bisa dicapai |
|
|
| TOPIK 3: evaluasi proses perencanaan dan penganggaran terhadap capaian kinerja pembangunan kewilayahan
Deskripsi: Setiap proses perencanaan (termasuk didalamnya penganggaran) yang dilakukan oleh unit administrasi tertentu (daerah: kabupaten, kota, provinsi/negara bagian) akan menghasilkan rumusan/formula strategi pembangunan yang menghasilkan capaian pembangunan (Oakerson et.al. 2004). Ketepatan didalam mencapai hasil pembangunan yang disepakati didalam proses perencanaan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika bagaimana proses perencanaan dan penganggaran itu dilaksanakan/diselenggarakan (Vogel, 1990). Fokus topik 3 adalah seperti apa proses perencanaan dan penganggaran yang efektif (dalam koridor batas administratif maupun lintas batas administratif) yang memungkinkan ketercapaian tujuan pembangunan sebagaimana disepakati oleh para pemangku kepentingan. |
efek proses perencanaan dan penganggaran terhadap kinerja pembangunan daerah (municipal & local planning & budget, public finance, project finance & development) | |
| TOPIK 4: tata kelola kewilayahan dari perspektif ekonomi dan kelembagaan
Deskripsi: Proses perencanaan wilayah metropolitan maupun di tingkat lokal (daerah) membutuhkan strategi dan pendekatan yang dinamis dan mampu mengakomodasi beragam kepentingan. Perbedaan kepentingan dan kepemilikan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah (wilayah administrasi) membutuhkan cara pandang dalam bentuk penyepakatan bersama atas pilihan kebijakan/keputusan (skenario collective action maupun social mobility) (Feiock, 2007; Kim et.al. 2020; Shresta & Feiock, 2021). |
eksplorasi pilihan strategi pembangunan didalam proses perencanaan dan tata kelola kewilayahan (effect of rational choice theory on development planning process and governance mode) | |
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Nama Dosen: Ratna Eka Suminar | Setiap unit spasial, termasuk desa, memiliki karakteristik dan jiwanya sendiri yang terbentuk karena adanya interaksi dalam waktu yang lama antara manusia dengan lingkungan. Interaksi tersebut membentuk pengalaman dan memperkuat ikatan di antara keduanya sehingga membentuk sistem nilai dalam wujud budaya pedesaan. Budaya pedesaan akan memengaruhi bagaimana elemen-elemen ruang dibentuk dan dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Perencana spasial harus menyadari tugasnya dengan menaruh kepentingan terhadap keberlanjutan lokalitas, salah satunya melalui kesadaran akan eksistensi budaya pedesaan. Perencana spasial yang membantu mengembangkan daerah pedesaan perlu memahami dan menggali nilai-nilai budaya pedesaan secara lebih mendalam serta mengintegrasikannya ke dalam setiap rencana spasial desa yang akan disusunnya. | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi: Perencanaan Wilayah Epistemiologi: Budaya Pedesaan Aksiologi |
Topik 1: Eksplorasi konsep identitas desa (rural identity dan identity of rural) sebagai bagian dari budaya pedesaan | |
| Topik 2: Pembelajaran dari praktik-praktik perencanaan spasial desa-desa di Indonesia | ||
| Topik 3: Kajian mengenai kedudukan desa dalam sistem regional | ||
| Topik 4: Pengembangan model perencanaan spasial desa | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Sri Tuntung Pandangwati | Mengintegrasikan sistem pangan ke dalam perencanaan tata ruang:
Pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Namun, permasalahan terkait pangan seringkali terabaikan dalam perencanaan tata ruang. Saat ini perencanaan tata ruang masih terfokus pada permasalahan konservasi lahan pertanian (LP2B dan LSD) dan perencanaan agropolitan. Padahal perencanaan tata ruang memiliki potensi untuk bisa berkontribusi pada dimensi sistem pangan yang lainnya seperti pemanfaatan pangan melalui intervensi lingkungan pangan (food environment) (Thornton & Kavanagh, 2016; Chen dkk., 2019). Literatur perencanaan pada dua dekade terakhir juga sudah menekankan pentingnya membangun perencanaan tata ruang yang sensitif pada isu-isu pangan (Cabannes and Marocchino, 2018; Moragues-Faus and Battersby, 2021; Raja et al., 2014; Soma et al., 2022). Pengentasan permasalahan terkait ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan tidak cukup dilakukan dengan pendekatan sosial ekonomi pertanian tetapi juga perlu pendekatan yang holistik, integratif dan spasial. Tentu saja perencanaan tata ruang wilayah dapat berkontribusi dalam pengentasan permasalahanan pangan melalui pendekatan spasial (keruangan). Beberapa ahli perencanaan membawa ketahanan pangan ke titik fokus perencanaan dan mendefinisikannya sebagai “perencanaan sistem pangan” (misalnya Brimblecombeet al., 2015; Soma dan Wakefield, 2011). Sistem pangan (produksi, distribusi, konsumsi dan pengelolaan sampah pangan) melingkupi area perdesaan dan/atau perkotaan sehingga skala wilayah/regional menjadi skala yang paling ideal untuk mengembangkan keilmuan perencanaan sistem pangan (Forster dkk.,2015). |
Publikasi Jurnal
HAKI PATEN |
| Ontologi: Perencanaan wilayah
Epistemiologi: Sistem keruangan pangan Aksiologi: – |
Topik 1: Eksplorasi konsep Perencanaan Sistem Pangan Wilayah: Tinjauan ontologis dan epistemologis | |
| Topik 2: Eksplorasi peran PWK dalam ketersediaan, pemanfaatan dan aksesibilitas pangan | ||
| Topik 3: Rekomendasi kebijakan keruangan untuk mendukung ketahanan pangan | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Atrida Hadianti | Wilayah permukiman keairan (sungai, pesisir, danau, rawa) menghadapi risiko bencana karena terpapar berbagai ancaman bencana alam (hazard), seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Untuk mencapai ketangguhan bencana jangka panjang, salah satu strategi penting adalah penerapan penataan ruang berbasis pengurangan risiko bencana. Metode penilaian risiko dan strategi mitigasi bencana telah dibahas secara luas, namun penerapannya dalam perencanaan tata ruang masih belum memadai. Oleh karena itu diperlukan integrasi manajemen risiko bencana ke dalam perencanaan tata ruang dengan menentukan arah pembangunan wilayah, yang tidak hanya mengurangi paparan terhadap bahaya tetapi lebih menekankan pada peningkatan kapasitas untuk mengurangi kerentanan. Dalam hal ini, ruang wilayah permukiman keairan tidak dapat dipisahkan dari penghidupan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam. Oleh karena itu, diperlukan suatu perangkat regulasi yang dapat mengarahkan pemanfaatan ruang oleh masyarakat sehingga dapat menjamin keseimbangan antara kegiatan eksploitasi dan konservasi ekosistem pada ruang tersebut. | Publikasi Jurnal
HAKI PATEN Perencanaan tata ruang wilayah permukiman keairan (sungai, pesisir, danau, rawa) mempertimbangkan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya dan konservasi ekosistem. |
| Ontologi
Epistemiologi Aksiologi |
Topik 1: Perencanaan tata ruang wilayah permukiman keairan berbasis pengurangan risiko bencana | |
| Topik 2: Pengelolaan sumberdaya keairan dalam pengembangan masyarakat dan perekonomian wilayah | ||
| Topik 3: Konservasi ekosistem keairan (jasa ekosistem, interaksi ruang darat-laut, valuasi lingkungan) | ||
| Nama | Tema Besar Pengembangan Keilmuan | Aplikasi/ Topik Penelitian |
| Rendy Bayu Aditya | Perencanaan lingkungan (baik di perkotaan maupun wilayah yang lebih luas), membutuhkan perhatian khusus. PL bertujuan menyeimbangkan pembangunan fisik wilayah dan kota, eksploitasi sumberdaya alam, serta pembuangan limbah beroperasi dalam batas daya dukung dan daya tampung planet (planetary boundaries). PL mendukung penciptaan kota dan wilayah yang sejahtera dalam pengertian yang luas, mencakup aspek kesejahteraan lingkungan (environmental wellness) yang berdampak pada kesejahteraan publik (public well-being). Dalam mencapai hal tersebut, dibutuhkan gerakan di bidang praktik perencanaan maupun di bidang pendidikan perencanaan. | Publikasi Jurnal: Manajemen dan perencanaan infrastruktur hijau, Transisi kota dan wilayah berkelanjutan (urban and regional sustainability transitions), Pendidikan perencanaan bertopik lingkungan hidup |
| Ontologi
Epistemiologi Aksiologi |
Topik 1: Infrastruktur ekologis (infrastruktur hijau-biru dan solusi berbasis alam) | |
| Topik 2: Pembangunan regeneratif (sirkular, hijau, dan biru) | ||
| Topik 3: Pendidikan perencanaan bertopik lingkungan hidup |