Di tengah ancaman perubahan iklim dan dinamika urbanisasi, ketangguhan kota (urban resilience) menjadi pilar utama dalam perencanaan pembangunan. Merespons hal tersebut, PWK UGM menyelenggarakan kuliah tamu untuk Mata Kuliah Pilihan (MKP) Perencanaan Kota Tangguh pada hari Selasa, 5 Mei 2026, bertempat di Ruang 10.A1 Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM. Hadir sebagai narasumber adalah M. Luthfi Eko Nugroho, S.T., M.T., Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kota Semarang.
Bapak Luthfi memaparkan perjalanan panjang Kota Semarang sejak tergabung dalam jejaring 100 Resilient Cities pada tahun 2014 hingga kini. Dengan morfologi yang terdiri dari dataran pantai hingga perbukitan, Semarang dihadapkan pada kerentanan multidimensi seperti banjir, rob, penurunan muka tanah (land subsidence), hingga kekeringan. Untuk meresponsnya, Pemkot Semarang telah mengintegrasikan strategi ketahanan kota secara langsung ke dalam sistem perencanaan daerah, mulai dari RPJPD, RPJMD, hingga RTRW.
Satu hal yang menarik dari diskusi ini adalah pembahasan mengenai strategi pembiayaan. Mengingat kapasitas fiskal daerah (APBD) yang terbatas, Bapak Luthfi menekankan pentingnya creative financing atau pembiayaan non-pemerintah. Contoh sukses yang dipaparkan adalah transformasi Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang menggunakan converter kit gas (CNG) dan mendapatkan dukungan pendanaan internasional dari Green Climate Fund (GCF) serta KfW Jerman, sebagai wujud komitmen Semarang menuju transportasi rendah karbon.
Kuliah tamu ini selaras dengan upaya pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
-
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
Membangun kapasitas adaptif kota dalam menahan dan pulih dari berbagai guncangan bencana (banjir, rob, longsor). -
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)
Implementasi kebijakan dekarbonisasi seperti transportasi publik ramah lingkungan dan inventarisasi gas rumah kaca. -
SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Kolaborasi aktif pemerintah kota dengan NGO global (ICLEI, UCLG), akademisi, dan sektor swasta dalam membiayai infrastruktur kota. -
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Mengembangkan infrastruktur fisik yang tahan banting serta inovasi dalam manajemen tata air (Water as Leverage). -
SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Menciptakan enabling environment yang menarik investasi hijau guna mendorong pertumbuhan ekonomi kota yang berkelanjutan.