Pesatnya laju urbanisasi dan ancaman nyata perubahan iklim menuntut para perencana kota untuk terus mencari terobosan baru, khususnya dalam hal ketahanan lingkungan dan manajemen sumber daya air. Merespons tantangan tersebut, Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM sukses menggelar Academic Workshop bertajuk “Nature-based Solutions: Bringing Theory into Practice” pada hari Senin, 9 Maret 2026, bertempat di Ruang Sidang, Lantai 2, Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan.
Workshop ini tidak sekadar menjadi forum diskusi teoretis, melainkan sebuah ruang sinergi untuk menjembatani kesenjangan antara gagasan akademis, kebijakan pemerintah, dan kesiapan masyarakat di lapangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kolaborasi lintas negara dan institusi, khususnya memperkuat jejaring kerja sama dengan mitra internasional dari Jerman melalui payung inisiatif PolyUrbanWaters (PUW). Workshop ini mengundang para stakeholder dari Pemerintah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, akademisi, serta mahasiswa.
Dibuka oleh Dr.Eng. Alexander Rani Suryandono, S.T., M.Arch. selaku Kepala Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan dan dipandu langsung oleh Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA, Ph.D. selaku moderator, diskusi berjalan dinamis dengan mengelaborasikan perspektif global dan aksi lokal. Dari sisi internasional, Xhesika Hoxha dari TH Köln University membuka wawasan peserta mengenai instrumen penilaian dan seleksi Nature-based Solutions (NBS) untuk ketahanan air. Paparan ini kemudian diperdalam oleh Prof. Anke Hagemann dan Lukas Pappert dari Technische Universität Berlin (TU Berlin) yang menyoroti metodologi perencanaan sensitif air (Water Sensitive Planning) serta pentingnya partisipasi multi-stakeholder.
Untuk memastikan teori tersebut kontekstual, workshop ini juga membedah bagaimana realita di lapangan. Hasanatun Nisa Thamrin, perwakilan dari Yayasan Kota Kita yang tergabung dalam Tim Proyek PUW, mempresentasikan tantangan transformasi teori ke praktik melalui studi kasus di Sariharjo, yakni kawasan Rejodani dan Randugowang. Sebagai penyempurna diskusi, kehadiran Nur Fitri Handayani, S.STP, M.Si., selaku Kepala Bappeda Kabupaten Sleman, memberikan sudut pandang krusial mengenai respons strategis dan arah kebijakan pemerintah daerah dalam mengadopsi perencanaan tata ruang yang sensitif terhadap isu air.
Melalui diskursus yang komprehensif ini, PWK UGM terus berkomitmen mencetak perencana kota yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga taktis dalam mengeksekusi solusi berbasis alam di tengah masyarakat.
Penyelenggaraan Academic Workshop ini berkontribusi langsung pada pencapaian berbagai pilar Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:
-
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
Menjadi inti dari workshop ini, yakni merumuskan solusi inovatif untuk mitigasi risiko banjir dan peningkatan kelayakan hidup (livability) di kawasan permukiman urban. -
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)
Mengedepankan pendekatan Nature-Based Solutions (NBS) sebagai strategi adaptasi dan mitigasi yang efektif terhadap dampak ekstrem dari perubahan iklim. -
SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak)
Mendorong konsep Water Sensitive Planning (WSP) untuk memperbaiki kualitas air dan tata kelola sumber daya air di wilayah perkotaan. -
SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Terwujudnya kerja sama multipihak antara institusi akademik (UGM, TH Köln, TU Berlin), pemerintah daerah (Bappeda Sleman), dan NGO/praktisi (Yayasan Kota Kita). -
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Menginspirasi perancangan infrastruktur hijau (green infrastructure) dan rekayasa tata ruang yang mengedepankan siklus alam (infratstruktur hijau).


