Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada kembali membekali mahasiswanya dengan kepekaan terhadap tren teknologi keruangan masa kini. Dalam agenda kuliah tamu terbaru, PWK UGM menghadirkan Nugroho Purwono, M.URP., Peneliti Ahli Muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang membedah topik krusial bertajuk “Big Data Spasial dalam Perencanaan Wilayah & Kota: Metode dan Teknik Analisis Data”.
Nugroho membuka sesi dengan sebuah pemaparan mengenai sekitar 80% dari total data yang diproduksi oleh masyarakat saat ini pada dasarnya memiliki dimensi spasial. Entah itu berupa koordinat yang menempel secara otomatis (natively geocoded) dari perangkat kita, maupun metadata geografis dari aktivitas transaksi sehari-hari.
Namun, diskusi tidak hanya berhenti pada kecanggihan teknologi. Narasumber mengajak mahasiswa untuk kritis melihat sisi lain dari fenomena ini, yakni isu geosurveillance atau pengawasan tata kelola data. Beliau membedah konsep “data doubles“, di mana data pergerakan individu kerap dimanfaatkan untuk kepentingan komersial dan pengawasan. Hal ini memunculkan dilema di tengah masyarakat urban, di satu sisi ada kelompok yang privasinya terlalu terekspos secara personal, namun di sisi lain ada kelompok marginal yang justru “tidak dianggap” atau tidak terpetakan oleh sistem algoritma tata kota.
Satu pesan penting yang ditekankan oleh Nugroho kepada para calon perencana wilayah adalah soal etika profesi. Mahasiswa PWK masa kini memang wajib “melek data” dan mampu memanfaatkan crowdsourced data seperti OpenStreetMap maupun GeoAI. Meski begitu, seorang planner harus tetap tajam dan kritis terhadap konteks sosial, etika privasi, dan implikasi politik dari setiap model algoritma yang mereka gunakan sebagai dasar kebijakan publik.
Substansi dari kuliah tamu ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), mencakup minimal 5 poin berikut:
-
SDG 4 (Pendidikan Berkualitas)
Upaya langsung dalam meningkatkan literasi data spasial dan penguasaan teknologi analitik masa depan bagi mahasiswa PWK. -
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Mendorong inovasi dan pemanfaatan Big Data spasial sebagai infrastruktur teknologi baru untuk merespons dinamika pembangunan. -
SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan)
Menyoroti bahaya bias algoritma dan pentingnya penggunaan data yang inklusif agar tidak ada kelompok masyarakat kota yang terpinggirkan dari kebijakan tata ruang. -
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
Menjadikan big data sebagai instrumen vital untuk merumuskan perencanaan wilayah kota yang presisi, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan warganya. -
SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)
Mengangkat diskusi etika terkait perlindungan privasi publik, keadilan akses informasi, serta transparansi pemerintah dalam mengelola data spasial warganya