Era digital menuntut pergeseran fundamental dalam profesi perencana wilayah menjadi semakin berbasis data. Merespons urgensi tersebut, PWK UGM menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Inovasi Analisis Data untuk Perencanaan” untuk Mata Kuliah Metode dan Teknik Analisis Data (Reguler). Kegiatan yang berlangsung pada hari Senin, 11 Mei 2026 di Ruang K1, Lantai 2 DTAP Fakultas Teknik UGM ini menghadirkan Aziz Harunur Rasyid, Ketua Tim Pengembangan Infrastruktur Wilayah Jawa Tengah dari Kementerian Pekerjaan Umum.
Dalam paparannya, Bapak Aziz menekankan bahwa kemampuan Data-Driven Planning kini bukan lagi sekadar tren, melainkan standar kompetensi wajib global bagi para planner. Ia menjelaskan proses penyusunan Rencana Pengembangan Infrastruktur Wilayah (RPIW) yang menggunakan pendekatan analisis makro, meso, dan mikro (memadukan PESTLE, Five Forces, dan SWOT) guna menerjemahkan data mentah menjadi Grand Strategy yang tepat sasaran. Pendekatan ini memastikan bahwa program investasi miliaran rupiah tidak dibangun secara reaktif, melainkan proyektif berdasarkan analisis kesenjangan (GAP Analysis) proyeksi kebutuhan masa depan.
Kuliah ini juga menyoroti transisi alat analisis (tools) dari sekadar pemetaan manual ke penggunaan Big Data, Machine Learning, serta pentingnya penguasaan Python dan kemampuan storytelling with data. Mahasiswa diingatkan bahwa secerdas apa pun algoritma komputer, ketajaman analisis dan empati seorang perencana terhadap konteks sosial-politik tetaplah tak tergantikan. Dokumen perencanaan harus menjadi alat koordinasi yang hidup, bukan sekadar tumpukan arsip administratif.
Kegiatan akademik ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
-
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Mendorong modernisasi metodologi perencanaan untuk menjamin pembangunan infrastruktur nasional yang efektif, terpadu, dan berdaya saing. -
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
Memfasilitasi perumusan kebijakan tata ruang yang berbasis analisis risiko dan adaptasi lingkungan, guna menciptakan kota yang resilient dan compact. -
SDG 4 (Pendidikan Berkualitas)
Membekali mahasiswa PWK dengan keahlian teknis tingkat lanjut (GIS, Spatial Analysis, Python) agar relevan dengan tuntutan industri 4.0. -
SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)
Menciptakan kebijakan publik dan alokasi anggaran infrastruktur yang lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara saintifik. -
SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Menggunakan data spasial untuk memetakan dan mengoptimalkan potensi sektor unggulan daerah, seperti kawasan industri dan lumbung pangan.