Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UGM baru saja menggelar kuliah tamu yang membedah sisi teknis sekaligus humanis dari manajemen pasca bencana. Menghadirkan Ir. Ashar Saputra, Ph.D., IPM dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, diskusi kali ini menyoroti kompleksitas pemulihan wilayah Sumatera setelah diterjang bencana banjir.
Dalam paparannya, Dr. Ashar menekankan bahwa pemulihan bukan sekadar membangun kembali apa yang hancur, melainkan menerapkan prinsip Build Back Better. Beliau menggarisbawahi tantangan nyata di lapangan, mulai dari kendala logistik dan pembersihan puing hingga sulitnya akses material konstruksi di daerah terdalam. Satu poin menarik yang dibahas adalah pentingnya aspek lokalitas, di mana dalam masa darurat, kayu-kayu hanyutan sisa banjir dapat diolah secara cerdas menjadi hunian sementara (huntara) yang ramah lingkungan sekaligus melibatkan partisipasi aktif warga penyintas.
Diskusi ini memberikan perspektif penting bagi mahasiswa perencanaan bahwa tata ruang pasca bencana harus bersifat dinamis dan adaptif. Rekonstruksi bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan upaya mengembalikan denyut nadi ekonomi dan sosial melalui pemilihan teknologi yang tepat guna dan desain yang tangguh terhadap ancaman bencana di masa depan.
Kuliah tamu ini berkaitan erat dengan pencapaian beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
-
SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)
Melalui penguatan resiliensi infrastruktur dan hunian pascabencana. -
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)
Terkait strategi adaptasi dan mitigasi bencana hidrometeorologi yang semakin intens. -
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Inovasi dalam pemilihan material dan teknologi bangunan yang tangguh. -
SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab)
Pemanfaatan material lokal dan daur ulang (kayu hanyutan) untuk konstruksi. -
SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam manajemen bencana.


