Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.504 pulau dan 65% wilayah berupa lautan, Indonesia memegang potensi maritim yang luar biasa. Guna membekali mahasiswa dengan wawasan tata ruang pesisir dan laut, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Kuliah Tamu untuk Mata Kuliah Pilihan (MKP) Perencanaan Ruang Laut pada Jumat, 22 Mei 2026. Bertempat di Ruang 9A1 Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM, acara ini menghadirkan Rahmat Mulianda, S.Pi, M.Mar., selaku Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/BAPPENAS.
Dalam paparannya yang bertajuk “Tata Ruang Sebagai Instrumen Strategis Ekonomi Biru”, Rahmat Mulianda menekankan bahwa ekonomi biru telah ditetapkan sebagai sumber pertumbuhan baru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Namun, optimalisasi delapan sektor prioritas ekonomi biru—mulai dari perikanan, pariwisata, hingga energi terbarukan kerap terbentur oleh konflik pemanfaatan ruang. Benturan kepentingan antara area tangkap nelayan tradisional dengan wilayah operasi migas, jalur pelayaran, maupun properti pesisir menjadi tantangan nyata di lapangan.
Untuk mengurai benang kusut tersebut, instrumen tata ruang nasional yang terintegrasi antara lanskap darat dan laut melalui pendekatan Ridge to Reef menjadi sangat krusial. Beliau juga menyoroti terobosan digitalisasi penataan ruang laut yang sedang didorong oleh pemerintah, seperti pemanfaatan Ocean Big Data, sistem perizinan e-SEA, serta pemosisian strategis Indonesia sebagai Digital Hub Asia-Pasifik melalui tata kelola sistem komunikasi kabel laut.
Pelaksanaan kuliah tamu ini berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:
-
SDG 14 (Ekosistem Laut)
Penataan ruang laut berfungsi memastikan perlindungan ekosistem pesisir dan habitat laut yang penting dari eksploitasi berlebih. -
SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi)
Mengedepankan ekonomi biru sebagai mesin pertumbuhan baru yang inklusif sekaligus melindungi penghidupan nelayan lokal. -
SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)
Mendorong inovasi melalui Ocean Big Data dan penataan infrastruktur kabel laut internasional. -
SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim)
Menggunakan pendekatan integrasi darat-laut untuk memitigasi degradasi pesisir dan memperkuat resiliensi iklim. -
SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)
Mewujudkan kepastian hukum dan meminimalkan konflik lintas sektoral dalam tata kelola pemanfaatan ruang laut