Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada baru saja menyelenggarakan kuliah tamu yang mengangkat wacana segar terkait penyediaan perumahan. Mengusung tajuk “Co-Housing sebagai Alternatif Hunian yang Terjangkau, Inklusif, dan Humanis”, diskusi ini membedah bagaimana mahalnya harga tanah dan komodifikasi perumahan dapat disiasati melalui pendekatan komunitas yang solider. Kegiatan untuk Mata Kuliah Pilihan (MKP) Kebijakan dan Pengelolaan Perumahan Kota ini digelar pada hari Senin, 4 Mei 2026 di Ruang 6A2 Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM.
SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan
Selama ini, penataan kota kerap dianggap sebatas urusan teknis pembangunan jalan, gedung, atau pengaturan zonasi. Namun, perspektif ini digali lebih dalam pada kuliah tamu yang digelar Program Sarjana Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UGM pada Kamis, 30 April 2026 lalu. Menghadirkan Retno Agustin, pakar GEDSI dari CIRCLE Indonesia sekaligus mahasiswa doktoral Sosiologi UGM, diskusi ini menegaskan pesan penting bahwa tata kota sejatinya adalah perihal keadilan sosial dan relasi kuasa.
Kualitas sebuah kawasan permukiman tidak hanya ditentukan oleh proses konstruksinya, tetapi dimulai dari langkah yang jauh lebih awal dan krusial yaitu perencanaan tapak yang matang. Untuk memberikan pemahaman praktis yang mendalam, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kuliah Tamu untuk Mata Kuliah Pilihan (MKP) Tapak Perumahan.
Kegiatan yang berlangsung secara luring pada Kamis, 29 April 2026, di Gedung SGLC Fakultas Teknik UGM ini mengangkat tema “Strategi Perencanaan dan Perancangan Tapak Perumahan”. Berbeda dengan sesi kelas biasanya, kali ini mahasiswa diajak melihat realita industri langsung melalui kacamata praktisi berpengalaman.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada kembali membekali mahasiswanya dengan kepekaan terhadap tren teknologi keruangan masa kini. Dalam agenda kuliah tamu terbaru, PWK UGM menghadirkan Nugroho Purwono, M.URP., Peneliti Ahli Muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang membedah topik krusial bertajuk “Big Data Spasial dalam Perencanaan Wilayah & Kota: Metode dan Teknik Analisis Data”.
Nugroho membuka sesi dengan sebuah pemaparan mengenai sekitar 80% dari total data yang diproduksi oleh masyarakat saat ini pada dasarnya memiliki dimensi spasial. Entah itu berupa koordinat yang menempel secara otomatis (natively geocoded) dari perangkat kita, maupun metadata geografis dari aktivitas transaksi sehari-hari.
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UGM baru saja menggelar kuliah tamu yang membedah sisi teknis sekaligus humanis dari manajemen pasca bencana. Menghadirkan Ir. Ashar Saputra, Ph.D., IPM dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, diskusi kali ini menyoroti kompleksitas pemulihan wilayah Sumatera setelah diterjang bencana banjir.
Dalam paparannya, Dr. Ashar menekankan bahwa pemulihan bukan sekadar membangun kembali apa yang hancur, melainkan menerapkan prinsip Build Back Better. Beliau menggarisbawahi tantangan nyata di lapangan, mulai dari kendala logistik dan pembersihan puing hingga sulitnya akses material konstruksi di daerah terdalam. Satu poin menarik yang dibahas adalah pentingnya aspek lokalitas, di mana dalam masa darurat, kayu-kayu hanyutan sisa banjir dapat diolah secara cerdas menjadi hunian sementara (huntara) yang ramah lingkungan sekaligus melibatkan partisipasi aktif warga penyintas.
